Langsung ke konten utama

Postingan

Selagi Masih Hidup

Sodikin hanya bisa menangis tersedu-sedu mengiringi penurunan peti jenazah ayahnya ke liang kubur. Satu hal yang sangat ia sesali, selama ayahnya hidup ia kurang sekali memperhatikannya. Bahkan untuk sekadar menemaninya ngobrol atau main catur, jarang sekali ia lakukan. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan urusannya sendiri. Tiga bulan lalu ia baru mengetahui ayahnya menderita sakit berat hingga dirawat di rumah sakit sampai meninggalnya. Sekarang, apa yang bisa ia lakukan untuk “menebus” kesalahannya? Tidak ada. Ayahnya sudah terbujur kaku. Tidak ada kesempatan kedua. Ya, kematian selalu berarti berakhirnya sebuah kesempatan. Sebuah titik. Manusia, seperti yang digambarkan dalam bacaan Alkitab hari ini, berbeda dengan pohon. Kalau sebuah pohon ditebang, ia punya kesempatan untuk bertunas lagi (ayat 7). Pun, apabila pohon itu akarnya menjadi tua dan tunggulnya mati, pada saatnya ia bisa bersemi lagi (ayat 8). Akan tetapi manusia, begitu ia tiba pada kematiannya, maka selesailah sudah ...

See The Future

Dalam film seri Flash Forward dikisahkan bahwa suatu hari semua orang di dunia pingsan pada saat yang bersamaan, lalu melihat masa depan. Respons setiap orang terhadap peristiwa itu berbeda-beda, sangat tergantung pada apa yang mereka lihat dalam penglihatan tersebut. Namun yang pasti, sejak hari itu hidup semua orang berubah. Orientasi hidup mereka bukan lagi semata-mata pada apa yang sedang terjadi saat ini, melainkan pada apa yang akan terjadi di masa yang mendatang. Kita pun sebetulnya adalah orang-orang yang sudah tahu mengenai masa depan. Kita sudah tahu bahwa dunia yang sekarang ini akan berakhir ketika Yesus datang kembali. Dan bahwa kita akhirnya akan bertemu langsung dengan Tuhan Yesus dan hidup bersama-Nya dalam kemuliaan kekal. Karena itu, hidup kita pun seharusnya diubahkan oleh pengetahuan ini. Tantangannya, kita tidak tahu kapan hal-hal tersebut akan terjadi. Sehingga, ada kalanya kita lupa akan masa depan yang sedang kita nantikan. Atau, bahkan kita menjadi ragu bahwa m...

Iman yang Mahal Harganya

Pollicarpus adalah uskup kota Smirna (sekarang daerah Izmir, Turki. Kota ini juga disebut dalam Wahyu 2:8-11). Ketika itu sedang terjadi penganiayaan besar-besaran terhadap orang kristiani. Mereka dikejar hendak dibunuh kalau tidak mau mengakui kaisar sebagai Tuhan. Pollicar pus juga ditangkap. Sebenarnya, ia punya kesempatan untuk melarikan diri, tetapi ia memilih bertahan. Kepadanya lalu diberikan pilihan: mengakui Kaisar sebagai Tuhan atau dibakar hidup-hidup? Jawab Pollicarpus, “Selama 88 tahun aku melayani Dia, tidak sekali pun Yesus mengecewakan aku. Bagaimana mungkin sekarang aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkan aku?” Ia akhirnya mati. Namun, ucapan Pollicarpus di ujung usianya itu menjadi sangat terkenal, dan menggambarkan seseorang yang bersedia mati demi mempertahankan kesetiaan pada imannya. Iman, seperti juga cinta, teruji pada saat yang sulit. Semakin mahal “harga” yang harus dibayar untuk iman kita, maka semakin cemerlanglah “kilau” yang ditampakkannya. Kesaksian...

Ingatlah Karya Tuhan

Pembina pemuda kami, sambil bergurau pernah berkomentar demikian, “Para pengurus pemuda suka pada narsis ya?” Alasannya, hampir di setiap kesempatan, kami para pengurus tidak pernah melewatkan acara berfoto-foto. Bagi kami, setiap momen harus diabadikan; sebagai tanda kenang-kenangan di masa depan. Mengenang masa lalu itu sangatlah penting, terutama untuk mengingat karya Tuhan di dalam hidup kita. Dan, ini pulalah yang Tuhan ingin agar kita lakukan. Sama seperti Tuhan, ketika Dia menyuruh bangsa Israel menyusun dua belas batu peringatan di tepi sungai Yordan. Tujuannya adalah untuk mengingat karya Tuhan yang memutuskan aliran Sungai Yordan, sehingga bangsa Israel dapat berjalan melaluinya. Batu peringatan ini bukan hanya bagi generasi mereka saja, melainkan juga bagi anak cucu mereka. Jika kita melupakan karya dan pimpinan Tuhan pada masa lampau, kita akan mudah mengeluh saat menghadapi masalah. Sebaliknya, jika kita terus mengingat karya dan kasih setia Tuhan, inilah yang menjadi moda...

Tsunami 8.8 Hajar Jepang 11 Maret 2011

Berdoa dan Berjagalah..:)

Kacang Lupa Kulitnya

Kacang lupa kulit adalah ungkapan kiasan untuk menyebut orang yang lu pa akan masa lalunya dan menjadi som bong. Misalnya, seorang gadis berasal dari desa, merantau ke kota, berhasil men ja di artis terkenal, lalu sikap dan perilakunya ber ubah menjadi sok, jauh dari tata kra ma. Ungkapan itu juga bisa dike nakan pa da orang yang tidak tahu ber te ri ma kasih, lu pa akan jasa-jasa orang yang pernah me nolong dan membe sar kan nya. Seperti si Malin Kundang, tokoh dalam sa lah satu ce rita rakyat dari Suma tra Ba rat. Malin Kun dang adalah pe mu da yang me raih ke suk sesan di ran tau, te tapi ke mudian ia ti dak mau meng a kui ibu nya sen diri, se hing ga di ku­tuk men jadi ba tu. Tuhan sangat tidak berkenan dengan si kap “kacang lupa kulit”. Itulah sebabnya berulang kali Dia meng i ngat kan umat Israel tentang status mereka dulu, yaitu sebagai bu dak-budak di Mesir, dan bahwa Tuhanlah yang telah mem bebas kan mereka (a yat 15). Tujuannya supaya mereka tetap me ngan dal kan Tuhan, dan t...

Janji Tuhan

Sudah tujuh belas tahun lebih saya me li hat dunia dengan bantuan kaca ma ta. Beberapa tahun terakhir ini saya makin sa dar akan risiko-risiko yang mungkin mun cul karena kondisi mata saya—ke mung kinan lepasnya lensa mata, meni pis nya kornea, maupun kebutaan. Kesadaran ini mengubah kehidupan saya. Setiap pa gi, saat saya membuka mata dan melihat ba yang-bayang kabur, saya bersyukur da lam hati. “Tuhan, terima kasih. Saya ma sih bisa melihat”. Saya tahu, ada ke mung kin an saya bangun dan tak dapat melihat apa pun. Jadi, saya sangat bersyukur apa bi la ha ri ini saya masih bisa melihat, mes ki de ngan keterbatasan. Terkadang Tuhan mengizinkan kita un tuk menyadari, bahkan mengalami kera puh an hidup dan ketidakberdayaan, supaya Dia dapat menun juk kan kasih-Nya kepada kita. Demikian pula saat menghadapi ta hun yang baru. Kerap kali kita menjadi pesimis di tengah terpaan kri sis eko nomi global, krisis pangan, perubahan iklim, atau bayang-ba yang PHK. Di tengah kesesakan hidup, mungkin...